Pahala sebuah Niat 2009-10-20
Beberapa “donatur baru” SOLOPEDULI saat mengisi form aplikasi merasa ragu saat harus memilih status donatur: tetap atau tidak tetap. Keraguan yang hadir menjadikan sebagian “donatur baru” tersebut memilih status sebagai donatur tidak tetap. Alasan mereka, lebih baik menulis tidak tetap, meskipun nantinya bisa menjadi donatur tetap. Kalau menulis sebagai donatur tetap, mereka takut jangan-jangan nanti tidak bisa konsisisten atau istiqomah, terutama jika suatu saat pintu rejeki menyempit.
Dr. F.I. Regardie, seorang ahli psikoterapi yang lahir di London tahun 1907 dan tinggal di Amerika Serikat sejak usia 13 tahun, menulis buku “The Art of True Healing”. Buku tersebut mengungkap tentang kekuatan spiritual dari setiap manusia yang bila dimanfaatkan bisa menyembuhkan segala macam penyakitnya sendiri. Konsep tersebut sejalan dengan buku “Anatomy of The Spirit” karya Dr. Caroline Myss, seorang ahli spesialis diagnosa intuisi, yakni bagaimana “melihat” penyakit pasien secara intuitif. Yang menarik adalah sebuah pernyataan di dalam tulisan tersebut, “So be it, so it is”. Ucapkan, “Jadilah, maka akan terjadi”.
Kembali kepada “donator-donatur baru” SOLOPEDULI yang ragu menjadi donatur tetap, niat adalah sebuah ketetapan hati, keputusan hati untuk memilih suatu rencana aksi. Niat merupakan suatu keputusan untuk melakukan aktifitas yang sudah tertanam dalam hati manusia. Ketika niat sudah tertanam kuat, maka kegagalan ibarat hanya sekedar aktifitas yang tertunda. Keputusan hati inilah yang akan membuat manusia melakukan sebuah tindakan. Rasulullah SAW bersabda, “Iman adalah apa yang terhujam dalam hati, dinyatakan oleh lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan.”
Ketika hati memutuskan untuk memilih suatu kebaikan (niat baik), sebenarnya manusia sudah berhasil memenangkan suatu ‘pertarungan’ dalam hatinya. Pantaslah kalau Allah SWT sudah memberi penghargaan dalam bentuk sebuah pahala untuk suatu niat baik, walau belum terwujud dalam bentuk tindakan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Jika hamba-Ku berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan, maka Aku menulisnya satu pahala kebaikan baginya walau ia belum mengerjakannya, dan jika ia mengerjakannya maka Aku menulisnya dengan sepuluh pahala kebaikan yang serupa dengannya” (HR Muslim).
Subhanallah, sekedar niat saja sudah ada nilai pahalanya di sisi Allah. Tapi, kenapa masih ada yang harus takut untuk sekedar berniat yang baik-baik dan berniat yang maksimal. Bukankah niat tidak membutuhkan energi besar apalagi biaya. Bukankah tulisan Dr. F.I. Regardie dan Dr. Caroline Myss semakin membuat keraguan kita tidak memiliki landasan yang kuat? Tulisan tersebut seolah ingin mengatakan, jangan tanggung-tanggung untuk memiliki niat yang baik, karena niat berbuat baik akan mengantarkan niat tersebut menjadi sebuah kenyataan. Meminjam kalimat Asma Nadia, “Dan hanya perlu sebuah niat, untuk membuatnya nyata…
Ada beberapa penyebab yang menjadikan niat baik tidak bisa menjadi kenyataan. Pertama, tidak khusyu’. Sering kali orang berniat hanya di mulut saja, bahkan sambil lalu. Niat tempatnya di hati, di pikiran paling dalam kita.
Kedua, melupakan niat. Jika mudah lupa dengan niat, berarti tidak serius dengan niat yang dibuat. Jika tidak serius, bagaimana bisa mendapatkan apa yang niatkan. Rasulullah mengingatkan, “Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan”. Salah seorang ulama mengatakan bahwa kita akan mendapatkan sesuai dengan kadar niat kita.
Ketiga adalah keraguan. Bagaimana kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan jika kita ragu? Abdurrahman bin ‘Auf dengan tanpa modal pergi ke pasar diiringi keyakinan yang mantap bahwa akan mendapat rezeki halal, maka beliau pulang dengan membawa keuntungan yang melimpah.
Niat baik pada dasarnya sebuah doa yang baik. Keteguhan hati atau keyakinan adalah kunci utama sebuah niat akan menjadi kenyataan. Rasullullah saw bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka janganlah ia mengatakan, ‘Ya Allah, berilah ampunan kepadaku jika engkau menghendakinya’, namun hendaknya meneguhkan hati (akan apa yang dimintanya).” (H.R Bukhori Muslim).
|