Pernahkah kita melihat seseorang yang dahulu berjuang dari bawah, tetapi perlahan berubah setelah meraih kesuksesan? Ketika mulai memiliki jabatan, mendapatkan penghasilan yang lebih baik, dikenal banyak orang, atau mencapai cita-cita yang selama ini diperjuangkan, terkadang seseorang lupa bagaimana perjalanan panjang yang telah dilaluinya.
Kesuksesan memang patut disyukuri. Mendapatkan pekerjaan yang diimpikan, memiliki usaha yang berkembang, memperoleh kepercayaan dari banyak orang, hingga mencapai kehidupan yang lebih baik merupakan nikmat dari Allah SWT. Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh hilang ketika kehidupan mulai membaik, yaitu kerendahan hati. Sebab, keberhasilan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru, semakin banyak nikmat yang Allah SWT berikan, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaganya.
Dalam Islam, kesombongan merupakan sifat yang harus dihindari. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:
"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi." (HR. Muslim).
Lantas, bagaimana caranya agar kita tetap rendah hati ketika sudah berada di atas?
1. Ingat Kembali Perjalanan Panjang yang Telah Dilalui
Salah satu cara menjaga kerendahan hati adalah dengan mengingat proses yang membawa kita sampai pada titik sekarang.
Sebelum mendapatkan pekerjaan yang baik, mungkin kita pernah mengalami penolakan berkali-kali. Sebelum memiliki penghasilan sendiri, mungkin kita pernah berada dalam keadaan serba terbatas. Sebelum dipercaya memimpin sebuah tim, mungkin kita pernah menjadi orang yang harus belajar dari banyak kesalahan. Ketika mulai merasakan keberhasilan, jangan sampai kita memandang rendah orang-orang yang masih berada dalam proses perjuangan. Bisa jadi, mereka sedang menghadapi kesulitan yang dahulu juga pernah kita alami.
2. Sadari Bahwa Kesuksesan Bukan Semata-Mata karena Kemampuan Diri Sendiri
Kerja keras, kedisiplinan, dan kemampuan memang berperan penting dalam mencapai keberhasilan. Namun, ada banyak hal lain yang turut mendukung perjalanan tersebut. Kesehatan, kesempatan, pendidikan, dukungan keluarga, bantuan orang lain, hingga kesempatan bertemu dengan orang yang tepat merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri. Dalam Surah An-Nahl ayat 53, Allah SWT berfirman bahwa segala nikmat yang ada pada manusia berasal dari-Nya. Ayat ini mengingatkan kita agar tidak mudah membanggakan diri seolah-olah seluruh pencapaian merupakan hasil usaha pribadi tanpa campur tangan siapa pun.
Seseorang mungkin berhasil membangun bisnis karena kerja kerasnya, tetapi ada pelanggan yang mempercayainya, karyawan yang membantunya, dan orang-orang yang mendukung perjalanannya. Begitu pula dengan seseorang yang meraih jabatan tinggi, tentu ada kesempatan dan kepercayaan yang menyertainya.
3. Jangan Meremehkan Orang yang Belum Berhasil
Kesalahan yang terkadang muncul setelah seseorang meraih kesuksesan adalah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Kita mungkin mulai merasa lebih pintar karena memiliki pendidikan lebih tinggi, lebih hebat karena mendapatkan jabatan yang baik, atau lebih berhasil karena mempunyai penghasilan lebih besar. Tanpa disadari, perasaan tersebut dapat membuat kita meremehkan orang lain.
4. Tetap Mau Belajar dan Menerima Kritik
Orang yang rendah hati memahami bahwa dirinya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari. Sebaliknya, kesombongan sering kali membuat seseorang merasa paling benar dan sulit menerima masukan. Misalnya, ketika mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, seseorang mungkin mulai menganggap pendapatnya selalu benar. Ia tidak lagi mau mendengarkan bawahannya, menolak saran dari rekan kerja, atau merasa tersinggung ketika mendapatkan kritik.
Padahal, kedudukan seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan semakin sulit menerima pendapat orang lain. Kritik yang disampaikan dengan baik dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Bahkan, terkadang orang yang memberikan masukan kepada kita justru membantu melihat kekurangan yang sebelumnya tidak disadari.
5. Jangan Mengukur Harga Diri dari Pujian dan Pengakuan Orang Lain
Ketika seseorang mulai sukses, perhatian dari lingkungan sekitar mungkin ikut meningkat. Pencapaiannya dipuji, pendapatnya lebih sering didengar, dan keberadaannya mulai dikenal banyak orang. Hal tersebut tentu menyenangkan. Namun, jika tidak berhati-hati, pujian dapat membuat seseorang merasa dirinya jauh lebih istimewa daripada orang lain.
Akibatnya, ia mulai melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan pengakuan. Kebaikan ingin selalu diketahui, bantuan ingin selalu dipuji, dan pencapaian terasa kurang berarti jika tidak mendapatkan perhatian.
Padahal, tidak semua hal baik harus dipertontonkan. Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh Allah SWT, dan ada keberhasilan yang tidak membutuhkan pengakuan dari semua orang. Dalam Surah Luqman ayat 18, Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak memalingkan wajah dari orang lain karena sombong dan tidak berjalan di bumi dengan angkuh.
Tetap Rendah Hati, Sebab Semua yang Kita Miliki Adalah Titipan
Pada akhirnya, berada di atas bukanlah alasan untuk memandang orang lain dari tempat yang lebih tinggi. Jabatan dapat berubah, kekayaan bisa berkurang, popularitas dapat memudar, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Apa yang kita miliki hari ini merupakan nikmat yang patut disyukuri sekaligus amanah yang perlu dijaga.
Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita besar, bekerja keras untuk mencapai kesuksesan, atau menikmati hasil dari perjuangan yang panjang. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa diri, melupakan orang-orang yang pernah membantu, atau merasa lebih mulia daripada sesama manusia.
Mari terus berusaha meraih kehidupan yang lebih baik tanpa kehilangan kerendahan hati. Sebab, kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mampu berdiri, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menghargai orang lain ketika sudah berada di atas.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dari kesombongan, melimpahkan keberkahan atas setiap nikmat yang diberikan, dan menjadikan kita pribadi yang selalu bersyukur serta bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Peduli NTT – Aksi Kemanusiaan Solopeduli X Karang Taruna Melati Putih