Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu momen paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, melainkan peristiwa sarat makna yang mengandung pesan mendalam tentang kesabaran, ketaatan, dan kepedulian Rasulullah SAW terhadap umatnya. Di balik keajaiban peristiwa tersebut, terdapat keteladanan yang relevan sepanjang zaman.
Isra Miraj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn (tahun kesedihan), ketika beliau kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya: istri tercinta Khadijah RA dan paman pelindungnya, Abu Thalib. Belum lagi penolakan, caci maki, dan tekanan dari kaum Quraisy yang semakin keras. Dalam kondisi penuh luka batin itulah Allah SWT memuliakan Rasulullah SAW dengan perjalanan agung sebagai bentuk penguatan, penghiburan, dan peneguhan risalah.
Allah SWT berfirman:
“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sarana Allah memperlihatkan kebesaran-Nya sekaligus mempersiapkan Rasulullah SAW untuk melanjutkan perjuangan dakwah yang penuh tantangan.
Kesabaran Rasulullah di Tengah Ujian
Salah satu pesan utama Isra Miraj adalah keteladanan Rasulullah SAW dalam bersabar. Sebelum dimuliakan dengan perjalanan agung, beliau lebih dahulu diuji dengan penderitaan yang berat. Namun, Rasulullah tidak membalas keburukan dengan keburukan, tidak pula berputus asa dari rahmat Allah.
Kesabaran Rasulullah mencerminkan akhlak seorang hamba yang sepenuhnya bersandar kepada Allah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Isra Miraj menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang tepat. Ketika kesabaran telah mencapai puncaknya, Allah menghadirkan penguatan yang luar biasa. Pesan ini relevan bagi umat Islam hingga hari ini, bahwa setiap kesulitan yang dihadapi dengan sabar akan selalu diiringi jalan keluar dari Allah.
Ketaatan Total sebagai Inti Keimanan
Isra Miraj juga menegaskan pentingnya ketaatan kepada Allah. Dalam peristiwa ini, Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu, yang menjadi tiang agama dan pembeda antara iman dan kekufuran. Awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu, namun atas permohonan Rasulullah SAW demi keringanan umatnya, Allah menetapkannya menjadi lima waktu dengan pahala lima puluh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama.”
(HR. Thabrani)
Ketaatan Rasulullah dalam menerima perintah Allah tanpa keraguan menunjukkan bahwa iman sejati menuntut kepatuhan, meski perintah tersebut terasa berat secara logika manusia. Salat menjadi simbol hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya, sekaligus fondasi pembentuk akhlak dan kepedulian sosial.
Kepedulian Rasulullah terhadap Umatnya
Salah satu sisi paling menyentuh dari peristiwa Isra Miraj adalah kepedulian Rasulullah SAW terhadap umatnya. Dalam perjalanan tersebut, beliau tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi berulang kali memohon keringanan agar umatnya tidak terbebani.
Sikap ini mencerminkan kasih sayang Rasulullah yang luar biasa. Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan sangat penyantun lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah: 128)
Ayat ini menegaskan bahwa kepedulian Rasulullah bukan sekadar sikap personal, melainkan bagian dari misi kenabian. Isra Miraj mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari empati dan kepedulian, bukan dari kepentingan diri sendiri.
Isra Miraj sebagai Refleksi Kehidupan Umat
Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, pesan Isra Miraj tetap relevan. Kesabaran Rasulullah mengajarkan umat untuk tidak mudah menyerah. Ketaatannya mengingatkan bahwa ibadah adalah fondasi kehidupan. Kepeduliannya menegaskan bahwa keimanan harus berdampak pada kemaslahatan umat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa keteladanan Rasulullah tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi menjelma dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
Meneladani Isra Miraj dalam Kehidupan Nyata
Meneladani Isra Miraj berarti menjadikan salat sebagai sumber kekuatan, bersabar dalam ujian, dan menumbuhkan kepedulian terhadap umat. Keteladanan Rasulullah SAW menuntun umat Islam untuk tidak hanya fokus pada keselamatan pribadi, tetapi juga ikut menjaga dan membangun peradaban yang berlandaskan nilai rahmah dan ilmu.
Ilmu dan Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang mampu meneladani Rasulullah. Tanpa pemahaman Al-Qur’an, pesan Isra Miraj berisiko hanya menjadi cerita sejarah, bukan pedoman hidup.
Isra Miraj bukan sekadar peristiwa untuk diperingati, tetapi untuk diteladani. Kesabaran, ketaatan, dan kepedulian Rasulullah SAW menjadi nilai yang perlu dihidupkan dalam kehidupan umat Islam hari ini. Salah satu bentuk nyata meneladani kepedulian Rasulullah adalah dengan mendukung pendidikan Al-Qur’an bagi para penghafalnya.
Sebagai wujud kepedulian tersebut, masyarakat dapat berpartisipasi dalam Sedekah Al-Qur’an untuk Hafidz Qur’an. Melalui sedekah ini, kita turut menghadirkan sarana belajar yang layak bagi para penjaga Kalamullah, sekaligus menyambung pahala jariyah yang terus mengalir. Dengan meneladani Rasulullah melalui aksi nyata, peringatan Isra Miraj tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi jalan memperkuat iman dan kepedulian umat. Donasi dapat disalurkan melalui: AYO SEDEKAH AL-QUR'AN