Di tengah dunia kerja yang serba cepat, ketepatan waktu sering dianggap hal sepele. Datang terlambat beberapa menit, menunda pekerjaan, atau mengulur tanggung jawab kerap dinormalisasi dengan berbagai alasan. Padahal dalam Islam, waktu adalah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Islam memandang waktu sebagai nikmat sekaligus ujian. Cara seseorang mengelola waktunya mencerminkan sikapnya terhadap amanah dan tanggung jawab, termasuk dalam urusan pekerjaan.
Waktu sebagai Amanah dalam Islam
Allah SWT menegaskan pentingnya waktu dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satu yang paling dikenal adalah Surah Al-‘Asr:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Asr: 1–2)
Ayat ini menjadi peringatan bahwa kerugian manusia sering kali berawal dari kelalaian terhadap waktu. Dalam konteks kerja, mengabaikan waktu berarti menyia-nyiakan amanah yang telah dipercayakan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar urusan teknis, tetapi nikmat yang harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin.
Tepat Waktu sebagai Bentuk Amanah Kerja
Dalam Islam, setiap tanggung jawab adalah amanah. Ketika seseorang menerima pekerjaan, jam kerja, atau target tertentu, maka di dalamnya melekat kewajiban untuk menunaikannya dengan sungguh-sungguh, termasuk soal ketepatan waktu.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58)
Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan sesuai kesepakatan, dan tidak menunda tanpa alasan yang dibenarkan adalah bagian dari menunaikan amanah tersebut. Sebaliknya, kebiasaan terlambat dan menunda dapat mencederai kepercayaan, baik dari atasan, rekan kerja, maupun masyarakat.
Teladan Rasulullah SAW dalam Disiplin Waktu
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai waktu. Beliau tidak suka menunda pekerjaan dan selalu menepati janji. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Beliau bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menepati waktu merupakan bagian dari menepati janji. Dalam dunia kerja, janji hadir tepat waktu dan menyelesaikan tugas sesuai tenggat adalah cerminan integritas seorang Muslim.
Relevansi di Dunia Kerja Saat Ini
Di era modern, disiplin waktu menjadi salah satu tolok ukur profesionalisme. Namun Islam telah jauh lebih dulu menanamkan nilai ini, bukan sekadar demi produktivitas, tetapi demi akhlak.
Ketepatan waktu bukan hanya berdampak pada kinerja individu, tetapi juga pada sistem kerja secara keseluruhan. Keterlambatan satu orang dapat menghambat pekerjaan orang lain. Karena itu, Islam memandang sikap disiplin sebagai bagian dari kepedulian sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menzalimi dan tidak membiarkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menyia-nyiakan waktu orang lain dengan keterlambatan dan penundaan termasuk bentuk ketidakpedulian yang bertentangan dengan semangat ukhuwah.
Disiplin Waktu sebagai Cermin Akhlak
Islam menempatkan akhlak sebagai inti dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Bekerja tepat waktu adalah bagian dari akhlak mulia tersebut. Ia menunjukkan kesungguhan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain. Sikap ini sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam membangun kepercayaan dan keberkahan dalam pekerjaan.
Menjaga Waktu, Menjaga Keberkahan
Ketepatan waktu dalam bekerja bukan hanya persoalan disiplin, tetapi wujud nyata dari amanah dan akhlak seorang Muslim. Islam mengajarkan bahwa setiap detik yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk waktu yang digunakan untuk bekerja.
Di tengah kesibukan mengejar target dan rutinitas harian, menjaga keberkahan waktu menjadi hal yang penting. Salah satu ikhtiar sederhana yang bisa dilakukan adalah membuka hari dengan kebaikan dan berbagi.
Melalui Sedekah Subuh, kita belajar menghargai waktu sejak pagi, meluruskan niat bekerja, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Karena kerja yang disiplin dan sedekah yang ikhlas adalah jalan menuju rezeki yang berkah dan hidup yang lebih bermakna. Mari salurkan Sedekah Subuh Anda pada link berikut: YUK SEDEKAH SUBUH