Media sosial telah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat modern. Di dalamnya, jutaan orang saling berbagi pendapat, pengalaman, dan pandangan hidup. Namun di balik kemudahan berkomunikasi tersebut, media sosial juga kerap dipenuhi dengan budaya saling menghakimi, ujaran kebencian, dan komentar yang melukai. Perbedaan pendapat yang seharusnya bisa didiskusikan dengan sehat, sering kali berubah menjadi perdebatan kasar yang jauh dari nilai adab.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap di tengah riuh media sosial? Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akhlak dan etika komunikasi telah memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana menjaga lisan, sikap, dan empati, termasuk di ruang digital.
Budaya Saling Menghakimi di Ruang Digital
Salah satu wajah paling menonjol dari media sosial hari ini adalah budaya saling menghakimi. Kesalahan kecil bisa dengan mudah diviralkan, pilihan hidup seseorang dijadikan bahan perdebatan, dan perbedaan pendapat sering berujung pada perendahan martabat. Tidak jarang, komentar bernada sinis dan kasar dilontarkan tanpa mempertimbangkan dampak psikologis bagi orang lain.
Dalam Islam, sikap merasa paling benar dan merendahkan orang lain merupakan perilaku yang dilarang. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa merendahkan orang lain, baik secara langsung maupun melalui tulisan di media sosial, bertentangan dengan nilai keimanan. Budaya menghakimi yang marak di ruang digital sejatinya mencerminkan krisis adab, bukan sekadar perbedaan pandangan.
Menjaga Lisan, Termasuk dalam Tulisan
Dalam Islam, lisan memiliki kedudukan yang sangat penting. Banyak kerusakan sosial bermula dari ucapan yang tidak terjaga. Di era digital, “lisan” tidak lagi terbatas pada kata yang diucapkan, tetapi juga tulisan yang diketik dan disebarkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi prinsip dasar etika komunikasi seorang Muslim. Dalam konteks media sosial, prinsip ini menuntut kehati-hatian sebelum berkomentar, membagikan konten, atau menanggapi perbedaan pendapat. Tidak semua hal harus ditanggapi, dan tidak semua opini perlu diluruskan dengan cara yang keras.
Islam mengajarkan bahwa diam dalam situasi tertentu bisa menjadi bentuk kebijaksanaan. Menahan diri dari komentar yang berpotensi melukai orang lain adalah bagian dari akhlak mulia.
Dakwah Bil Hikmah di Era Media Sosial
Media sosial juga menjadi sarana dakwah yang sangat luas. Banyak konten keislaman tersebar dengan cepat dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Namun, dakwah di ruang digital memiliki tantangan tersendiri. Cara penyampaian yang keras, menggurui, atau merendahkan justru sering menimbulkan resistensi.
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, yaitu kebijaksanaan, kelembutan, dan pemahaman terhadap kondisi audiens. Dakwah bukan ajang menunjukkan keunggulan moral, melainkan upaya mengajak dengan empati.
Di media sosial, dakwah bil hikmah berarti memilih kata yang tepat, memahami konteks, serta menyadari bahwa setiap orang berada pada tahap pemahaman yang berbeda. Kritik boleh disampaikan, tetapi dengan bahasa yang membangun, bukan menjatuhkan.
Empati sebagai Akhlak Rasulullah SAW
Salah satu akhlak utama Rasulullah SAW adalah empati. Beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga memahami kondisi orang yang diajak bicara. Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang lembut, penuh perhatian, dan tidak tergesa-gesa dalam menghakimi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa empati merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Di media sosial, empati berarti menyadari bahwa di balik setiap akun ada manusia dengan perasaan, latar belakang, dan pergulatan hidup yang tidak selalu kita ketahui.
Sebelum menulis komentar atau membagikan opini, seorang Muslim diajak untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kalimat ini akan membawa kebaikan, atau justru melukai?
Menjadi Muslim yang Beradab di Ruang Digital
Adab dalam Islam bukan hanya ditunjukkan di masjid atau majelis ilmu, tetapi juga di ruang publik, termasuk media sosial. Menjadi Muslim yang beradab berarti menjaga tutur kata, menghindari prasangka buruk, dan tidak mudah terpancing emosi.
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
(QS. Al-Isra: 53)
Ayat ini relevan dengan kondisi media sosial saat ini, di mana kata-kata kasar sering dianggap lumrah. Islam justru mengajarkan untuk selalu memilih perkataan yang terbaik, bahkan dalam situasi perbedaan pendapat.
Dengan adab dan empati, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih sehat, edukatif, dan menenangkan. Seorang Muslim memiliki peran penting untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut melalui sikap dan perilakunya.
Dari Etika Digital Menuju Amal Nyata
Menjadi Muslim yang beradab di media sosial bukan hanya soal tutur kata, tetapi juga tentang kepekaan membaca realitas di sekitar. Ketika ruang digital dipenuhi empati dan tanggung jawab moral, kesadaran untuk peduli pada sesama pun seharusnya ikut tumbuh.
Di saat sebagian kita aktif berdiskusi dan berbagi pandangan di media sosial, saudara-saudara kita di Sumatera tengah menghadapi dampak bencana yang mengganggu kehidupan mereka. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui program Peduli Sumatera sebagai langkah nyata menghadirkan bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Dari etika yang terjaga di ruang digital, semoga lahir aksi kepedulian yang membawa manfaat dan keberkahan bagi banyak orang. Mari salurkan donasi Anda melalui link berikut: YUK DONASI UNTUK SUMATRA