Saat Ampunan Allah Bergantung Pada Sikap Kita

Bagi sebagian orang, Nisfu Sya’ban dipahami sebagai malam penuh ampunan. Masjid ramai, doa dipanjatkan, dan harapan akan penghapusan dosa menguat. Namun Islam memberi satu catatan penting yang kerap luput dari perhatian: ampunan Allah tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan sikap manusia terhadap sesamanya.

Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban, Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya, tetapi tidak untuk semua orang. Ada hati-hati yang justru menjadi penghalang datangnya ampunan itu.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan satu hal mendasar: hubungan manusia dengan Allah tidak bisa dilepaskan dari hubungan manusia dengan manusia.

Ibadah Vertikal yang Tidak Pernah Netral

Dalam Islam, ibadah vertikal seperti salat, puasa, dan doa memang menjadi fondasi utama keimanan. Namun Al-Qur’an dan hadis berkali-kali mengingatkan bahwa kualitas ibadah vertikal sangat dipengaruhi oleh kondisi relasi sosial seseorang.

Allah SWT berfirman:

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin…”
(QS. An-Nisa: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa perintah tauhid tidak berdiri sendiri. Ia langsung disandingkan dengan perintah berbuat baik kepada sesama. Artinya, relasi vertikal dan horizontal dalam Islam berjalan beriringan, bukan terpisah.

Mengapa Memaafkan Menjadi Syarat?

Islam memahami bahwa konflik antarmanusia adalah keniscayaan. Luka, kecewa, dan sakit hati adalah bagian dari pengalaman hidup. Namun yang menjadi sorotan bukanlah adanya konflik itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya.

Allah SWT berfirman:

“Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”
(QS. Asy-Syura: 40)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan melepaskan beban yang mengikat hati. Dalam konteks Nisfu Sya’ban, Islam menempatkan pemaafan sebagai pintu penting menuju ampunan Ilahi. Hati yang masih dipenuhi dendam dan permusuhan menjadi penghalang, bukan karena Allah enggan mengampuni, tetapi karena manusia menutup ruang itu sendiri.

Realitas Zaman: Konflik yang Tak Pernah Selesai

Di era digital, konflik tidak selalu berbentuk pertengkaran langsung. Ia bisa hadir dalam bentuk sindiran, blokir, unfollow, atau diam yang berkepanjangan. Permusuhan sering kali disimpan rapi, tidak terlihat, tetapi mengendap lama di hati.

Islam tidak menuntut rekonsiliasi yang instan atau relasi yang dipaksakan. Namun Islam mengajarkan satu langkah minimal: membersihkan hati dari niat buruk dan kebencian yang disengaja.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam memandang konflik yang dibiarkan berlarut-larut sebagai masalah moral, bukan sekadar persoalan pribadi.

Nisfu Sya’ban sebagai Cermin Batin

Nisfu Sya’ban bukan hanya tentang memperbanyak doa, tetapi tentang bercermin pada kondisi batin. Apakah ada hubungan yang sengaja diabaikan? Apakah ada luka yang dipelihara atas nama gengsi? Atau amarah yang terus dibenarkan dengan dalih kebenaran?

Allah SWT berfirman:

“Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)

Ayat ini hadir dalam konteks perintah memaafkan. Seolah Allah mengajukan pertanyaan langsung kepada hati manusia: bagaimana mungkin seseorang mengharap ampunan, sementara ia enggan memberi maaf?

Ampunan sebagai Jalan Dua Arah

Islam mengajarkan bahwa ampunan bukan sekadar permohonan satu arah dari manusia kepada Allah. Ia adalah jalan dua arah yang melibatkan kesadaran sosial. Ketika seseorang melapangkan hati, ia sedang membuka ruang bagi rahmat Allah untuk masuk.

Inilah mengapa Nisfu Sya’ban menjadi momen penting untuk menata ulang relasi—bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan kejujuran dan niat memperbaiki diri.

Membersihkan Hati, Meluaskan Kepedulian

Nisfu Sya’ban mengingatkan bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga tercermin dari kepekaan terhadap penderitaan sesama. Hati yang dilapangkan dari dendam dan ego semestinya mendorong langkah untuk lebih peduli pada kondisi di sekitar.

Di saat sebagian dari kita menata batin menyambut Ramadhan, saudara-saudara kita di Pekalongan tengah menghadapi ujian berat akibat banjir yang mengepung permukiman dan mengganggu aktivitas kehidupan. Kepedulian di bulan Sya’ban dapat diwujudkan dengan membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan. Mari salurkan donasi Anda melalui link berikut: YUK DONASI UNTUK BANJIR PEKALONGAN