Menghidupkan Bulan Sya’ban Di Tengah Kesibukan Zaman

Hidup di zaman sekarang berjalan dengan kecepatan yang nyaris tak memberi jeda. Target pekerjaan, tuntutan akademik, notifikasi media sosial, hingga tekanan ekonomi membuat banyak orang hidup dalam mode “kejar tayang”. Di tengah ritme yang serba cepat ini, ibadah sering kali menjadi hal yang tertunda, diniatkan, tapi tak sempat dikerjakan; ingin istiqamah, tapi energi sudah terkuras lebih dulu.

Fenomena ini bukan sekadar masalah individu, melainkan realitas sosial yang dihadapi banyak umat Islam hari ini. Ironisnya, kondisi tersebut justru kerap melahirkan rasa bersalah berlapis: merasa jauh dari Allah, namun juga merasa tak punya cukup waktu untuk mendekat.

Dalam situasi seperti inilah, bulan Sya’ban hadir sebagai ruang jeda. Bukan bulan dengan tuntutan ibadah yang berat, tetapi bulan yang mengajarkan penataan niat, keseimbangan, dan kesiapan hati sebelum memasuki Ramadhan.

Islam dan Realitas Kehidupan yang Tidak Sederhana

Islam bukan agama yang menutup mata terhadap realitas kehidupan manusia. Ajarannya tidak hadir untuk memberatkan, melainkan mengarahkan. Allah SWT dengan tegas berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam memahami ibadah. Islam memahami bahwa manusia memiliki kapasitas yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kondisi fisik, mental, dan situasi hidup. Oleh karena itu, kualitas ibadah tidak diukur dari seberapa banyak ritual yang dilakukan, tetapi dari kesungguhan dan kesadaran di baliknya.

Di tengah kesibukan zaman, Islam tidak menuntut umatnya untuk menjadi sempurna secara instan. Justru, Islam mendorong proses bertahap, memperbaiki sedikit demi sedikit, namun konsisten dan bermakna.

Sya’ban: Bulan yang Sering Terlewatkan

Dalam kalender Hijriyah, bulan Sya’ban sering berada di posisi “tanggung”. Ia datang setelah Rajab yang dimuliakan, dan sebelum Ramadhan yang diagungkan. Akibatnya, banyak orang melewatinya begitu saja.

Padahal, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada bulan ini. Usamah bin Zaid RA meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebiasaan beliau berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda:

“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.”
(HR. An-Nasa’i)

Hadis ini menunjukkan bahwa Sya’ban justru bernilai karena sering diabaikan. Rasulullah SAW memilih meningkatkan amal di saat kebanyakan manusia lengah. Sebuah pelajaran penting di tengah budaya sibuk yang sering membuat ibadah menjadi nomor sekian.

Ruang Jeda untuk Menata Niat

Berbeda dengan Ramadhan yang penuh target, target puasa, tilawah, sedekah, dan berbagai program ibadah—Sya’ban menawarkan suasana yang lebih tenang. Inilah ruang jeda untuk menata ulang niat: mengapa kita beribadah, untuk siapa, dan sejauh mana kesadaran kita selama ini.

Menata niat berarti jujur pada diri sendiri. Mungkin ibadah kita menurun, mungkin hubungan dengan Al-Qur’an merenggang, atau mungkin hati terasa kering. Islam tidak memerintahkan untuk menutupi kondisi ini, tetapi mengajak untuk mengakuinya dan perlahan memperbaiki.

Dalam konteks ini, Sya’ban menjadi bulan refleksi, bukan kompetisi. Tidak ada tuntutan harus langsung maksimal, tetapi ada ajakan untuk kembali sadar dan bersiap.

Menyambut Ramadhan dengan Kesiapan, Bukan Kepanikan

Tak sedikit orang menyambut Ramadhan dengan kepanikan. Baru tersadar target ibadah ketika bulan suci sudah di depan mata. Akibatnya, Ramadhan dijalani dengan semangat meledak di awal, lalu melemah di tengah jalan.

Rasulullah SAW memberi teladan sebaliknya. Aisyah RA meriwayatkan:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa sunnah daripada di bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa sunnah di bulan Sya’ban bukan sekadar amalan tambahan, melainkan bentuk kesiapan. Ia melatih tubuh, mengondisikan jiwa, dan menata ritme ibadah sebelum Ramadhan tiba.

Dalam kehidupan modern, prinsip ini bisa diterjemahkan secara sederhana: mulai membiasakan diri dengan ibadah kecil namun konsisten. Membaca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat, memperbaiki shalat, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah.

Islam Mengajarkan Keseimbangan, Bukan Pelarian

Menghidupkan Sya’ban bukan berarti mengasingkan diri dari dunia. Islam tidak mengajarkan pelarian dari realitas, melainkan keseimbangan. Bekerja tetap bernilai ibadah, belajar tetap bernilai amal, selama diniatkan dengan benar.

Sya’ban mengingatkan bahwa mendekat kepada Allah tidak selalu harus dengan perubahan drastis, tetapi dengan kesadaran yang jujur dan langkah yang realistis. Inilah Islam yang ramah terhadap manusia, namun tetap menjaga arah hidupnya.

Mengalirkan Kebaikan dari Sya’ban

Di tengah kesibukan zaman, menghidupkan bulan Sya’ban adalah cara sederhana untuk menata ulang niat dan memperlambat langkah sebelum Ramadhan tiba. Ia mengajak kita bersiap tanpa panik, menyadari bahwa Allah tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Kesadaran itu juga mengingatkan bahwa persiapan menyambut Ramadhan tidak berhenti pada ibadah personal. Kepedulian kepada sesama menjadi bagian penting dari penyucian hati. Melalui program Pembangunan Sumur Bor untuk Aceh dan Sumatra, kebaikan di bulan Sya’ban dapat diwujudkan dalam bentuk nyata: menghadirkan akses air bersih bagi mereka yang membutuhkan. Dari langkah kecil di bulan persiapan ini, semoga Ramadhan kelak disambut dengan hati yang lebih lapang dan amal yang lebih bermakna. Mari salurkan donasi Anda melalui link berikut: YUK DONASI SUMUR BOR