Apa Kita Benar-Benar Rindu Ramadan, Atau Sekadar Rutinitas?

Setiap tahun, Ramadan selalu datang tepat waktu. Kalender hijriah tak pernah ingkar janji. Spanduk ucapan selamat, jadwal imsakiyah, dan pengingat puasa mulai memenuhi ruang publik. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah kita benar-benar merindukan Ramadan, atau sekadar menjalani rutinitas tahunan?

Bagi sebagian orang, Ramadan terasa istimewa. Ada kerinduan, ada harap, ada getar halus di hati. Namun bagi yang lain, Ramadan terasa seperti siklus biasa: puasa, tarawih, buka bersama, lalu kembali ke pola lama setelah Idulfitri. Tanpa disadari, ibadah bisa berubah menjadi kebiasaan tanpa rasa.

Ketika Ibadah Menjadi Rutinitas

Rutinitas sejatinya tidak selalu buruk. Dalam Islam, konsistensi adalah nilai penting. Namun rutinitas menjadi masalah ketika ia kehilangan makna. Ketika puasa hanya soal menahan lapar, tarawih sekadar menggugurkan kewajiban, dan Al-Qur’an dibaca tanpa benar-benar diresapi.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)

Ayat ini tidak berbicara tentang orang yang meninggalkan salat, melainkan mereka yang menjalankannya tanpa kesadaran dan kehadiran hati. Sebuah peringatan bahwa ibadah fisik saja tidak cukup jika tidak disertai makna.

Rindu yang Sejati Tidak Selalu Ramai

Kerinduan yang tulus sering kali tidak berisik. Ia hadir dalam keinginan memperbaiki diri, bukan sekadar memamerkan aktivitas ibadah. Rindu Ramadan bukan tentang seberapa sibuk kita beribadah, tetapi seberapa besar harapan kita untuk didekati oleh Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan dua kata kunci dalam hadis ini: iman dan mengharap pahala. Puasa bukan hanya soal waktu dan ritual, tetapi soal motivasi batin. Tanpa keduanya, Ramadan berisiko menjadi rutinitas kosong.

Mengapa Rasa Rindu Itu Bisa Hilang?

Banyak faktor yang membuat kerinduan pada Ramadan memudar. Kesibukan hidup, tekanan ekonomi, kelelahan mental, hingga distraksi digital membuat hati sulit tenang. Ramadan datang di tengah hidup yang belum selesai, masalah yang belum reda, dan pikiran yang belum rapi.

Namun Islam tidak menuntut umatnya menunggu hidup sempurna untuk merindu Ramadan. Justru Ramadan hadir sebagai ruang jeda, tempat manusia kembali menata hubungan dengan Allah di tengah ketidaksempurnaan hidup.

Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ketenteraman bukan hasil dari hidup tanpa masalah, melainkan dari hubungan yang hidup dengan Allah.

Antara Tradisi dan Transformasi

Ramadan di Indonesia kaya akan tradisi. Dari sahur bersama, buka puasa berjamaah, hingga berbagai kegiatan sosial. Tradisi ini indah dan patut dijaga. Namun tradisi seharusnya menjadi jembatan menuju transformasi, bukan sekadar pengulangan.

Pertanyaannya bukan lagi “apa saja kegiatan Ramadan kita”, tetapi “apa yang berubah setelahnya”. Apakah Ramadan membuat kita lebih sabar, lebih peduli, dan lebih lembut terhadap sesama?

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin tampak di bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa rindu Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga tentang kepedulian sosial.

Menghidupkan Rindu dengan Amal Nyata

Salah satu cara sederhana untuk menghidupkan kembali rindu Ramadan adalah dengan mengaitkan ibadah dengan manfaat nyata bagi orang lain. Ketika ibadah berhenti di diri sendiri, ia mudah terasa hampa. Namun ketika ia mengalir ke sesama, hati ikut terlibat.

Al-Qur’an adalah jantung Ramadan. Bulan ini diturunkannya wahyu sebagai petunjuk bagi manusia. Sayangnya, masih banyak saudara kita yang belum memiliki akses memadai terhadap Al-Qur’an, terutama di daerah pelosok dan kalangan yatim serta dhuafa.

Allah SWT berfirman:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa merindukan Ramadan berarti juga merindukan Al-Qur’an hadir lebih luas dalam kehidupan umat.

Rindu yang Diwujudkan

Merindukan Ramadan tidak harus selalu dengan euforia. Kadang ia hadir dalam kesadaran sunyi bahwa kita ingin menjadi lebih baik, meski perlahan. Rindu yang sejati bukan tentang seberapa sempurna ibadah kita, tetapi seberapa tulus niat kita mendekat kepada Allah.

Salah satu cara mewujudkan rindu tersebut adalah dengan mengalirkan kebaikan melalui Sedekah Al-Qur’an. Dengan membantu menghadirkan Al-Qur’an bagi mereka yang membutuhkan, kita ikut menyemai cahaya Ramadan di hati orang lain. Dari rutinitas yang dimaknai, semoga Ramadan benar-benar hadir sebagai bulan yang dirindukan, bukan sekadar dilewati. Mari salurkan sedekah Anda melalui link berikut: AYO SEDEKAH AL-QUR'AN