Pasca banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang, SOLOPEDULI terus berupaya memberikan pendampingan bagi kelompok rentan, khususnya anak-anak, melalui berbagai kegiatan psikososial. Program ini dilaksanakan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi mental, emosional, dan tumbuh kembang anak-anak yang terdampak bencana.
Kegiatan psikososial pertama dilaksanakan pada Senin, 30 Desember 2025, di Dusun Mawar, Desa Bukit Rata Minuran, Kecamatan Kejuruan Muda. Relawan SOLOPEDULI berinteraksi langsung dengan anak-anak melalui permainan dan aktivitas bersama untuk mengembalikan keceriaan mereka setelah mengalami situasi traumatis akibat banjir.
Selanjutnya, pada Selasa, 31 Desember 2025, kegiatan serupa digelar di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam kesempatan tersebut, SOLOPEDULI membagikan es krim, mainan anak, serta buku bacaan, sekaligus mengajak anak-anak bermain dan berbagi keceriaan bersama relawan.
dok.humas: Pembagiaan Mainan Anak oleh Relawan SOLOPEDULI
Kegiatan psikososial berlanjut pada Rabu, 1 Januari 2026, di Desa Landuh, Kecamatan Rantau. Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan pembagian balon yang disertai permainan ringan sebagai sarana pelepas stres dan trauma pascabencana.
Relawan SOLOPEDULI yang bertugas di lokasi, Iqbal, menyampaikan bahwa kondisi anak-anak di Aceh Tamiang cukup memprihatinkan. Banyak dari mereka terlihat berdiri di pinggir jalan untuk meminta-minta. Selain itu, kegiatan belajar-mengajar terpaksa dilakukan di tenda darurat yang didirikan pascabanjir. Ironisnya, tenda-tenda tersebut kerap kembali terendam banjir sehingga tidak layak digunakan secara optimal.
“Akibat kondisi tersebut, banyak anak yang akhirnya tidak memiliki aktivitas harian yang jelas. Padahal, per 5 Januari seharusnya mereka sudah kembali melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Namun, situasi di Aceh Tamiang belum memungkinkan,” ujar Iqbal.
Chief Program Officer SOLOPEDULI, Megawati, menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus dalam situasi darurat seperti ini.
“Sejak berada di Aceh Tamiang, kami menemukan banyak kondisi yang memprihatinkan. Anak-anak banyak menghabiskan waktu di jalan, beberapa mengalami muntah-muntah akibat kurangnya asupan nutrisi, penyakit seperti tifus sudah dianggap biasa, bahkan banyak yang mengalami gatal-gatal akibat lingkungan yang tidak sehat. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan pendampingan serius, baik secara fisik maupun psikososial,” jelas Megawati.
Melalui program psikososial ini, SOLOPEDULI berharap dapat membantu memulihkan semangat anak-anak, memberikan rasa aman, serta menghadirkan kembali keceriaan di tengah keterbatasan yang mereka alami pascabencana.(snk)