Bencana alam yang melanda berbagai wilayah di Sumatra seakan menjadi jeritan sunyi dari alam yang selama ini kita abaikan. Banjir yang menenggelamkan permukiman, tanah longsor yang merenggut nyawa, serta kerusakan lingkungan yang kian meluas bukan hanya menghadirkan duka, tetapi juga pertanyaan mendalam: apa yang sebenarnya sedang disampaikan alam kepada manusia?
Dalam Islam, alam bukanlah objek mati yang bebas dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah ciptaan Allah SWT yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Ketika alam “menangis” melalui bencana, Islam mengajarkan kita untuk tidak hanya melihatnya sebagai peristiwa fisik, tetapi juga sebagai pesan moral dan spiritual bagi umat manusia.
Hubungan Manusia dan Alam dalam Islam
Islam memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk mengelola, menjaga, dan merawat bumi, bukan merusaknya. Amanah ini ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an yang menggambarkan betapa Allah menciptakan alam dengan keseimbangan yang sempurna.
Gunung, hutan, sungai, laut, dan seluruh ekosistem bukan sekadar penopang kehidupan manusia, tetapi juga bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Ketika manusia memperlakukan alam dengan serakah, rakus, dan tanpa tanggung jawab, maka keseimbangan itu akan terganggu. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi kembali menghantam manusia sendiri.
Bencana alam dalam perspektif Islam tidak bisa dilepaskan dari hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya. Apa yang ditanam manusia dalam bentuk perilaku, itulah yang akan dituai dalam bentuk konsekuensi.
Kerusakan Alam Akibat Ulah Manusia
Allah SWT dengan tegas mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami bencana alam. Kerusakan bukan datang begitu saja, melainkan lahir dari akumulasi perilaku manusia. Penebangan hutan secara liar, alih fungsi lahan tanpa perhitungan, pencemaran sungai, hingga eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah contoh nyata dari pengkhianatan terhadap amanah sebagai khalifah.
Di Sumatra, banyak bencana banjir dan longsor terjadi di wilayah yang sebelumnya mengalami deforestasi masif. Hutan yang seharusnya menjadi penyangga air dan tanah telah hilang, sehingga alam kehilangan kemampuannya untuk menahan bencana. Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajak kita untuk jujur bercermin, sejauh mana manusia telah berperan dalam kerusakan tersebut?
Bencana sebagai Cermin Perilaku Manusia
Islam tidak mengajarkan kita untuk menyalahkan korban bencana. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk mengambil pelajaran kolektif. Bencana adalah cermin besar yang memperlihatkan wajah asli hubungan manusia dengan alam.
Ketika keserakahan lebih diutamakan daripada keberlanjutan, ketika keuntungan jangka pendek mengalahkan kelestarian jangka panjang, maka bencana menjadi alarm keras yang membangunkan kesadaran manusia. Alam seolah “berbicara” dengan caranya sendiri, mengingatkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Namun, bencana bukan hanya peringatan ekologis, tetapi juga spiritual. bencana dapat menguji kepekaan nurani manusia, apakah setelah bencana kita mau berubah, atau justru kembali mengulangi kesalahan yang sama?
Tanggung Jawab Ekologis Umat Islam
Dalam Islam, menjaga lingkungan bukan isu sampingan, melainkan bagian dari ibadah. Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam menjaga alam, mulai dari larangan merusak tanaman tanpa alasan, anjuran menanam pohon, hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa menanam pohon yang buahnya dimakan oleh manusia atau hewan akan bernilai sedekah. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan keberlanjutan dan kepedulian ekologis.
Tanggung jawab ekologis umat Islam mencakup beberapa hal penting. Pertama, kesadaran individu untuk hidup lebih ramah lingkungan, tidak berlebihan, dan tidak merusak alam. Kedua, kesadaran sosial untuk mendorong kebijakan dan praktik yang adil terhadap lingkungan. Ketiga, kepedulian kemanusiaan, yaitu membantu mereka yang terdampak langsung akibat kerusakan lingkungan dan bencana alam.
Umat Islam tidak boleh hanya hadir dalam doa, tetapi juga dalam aksi nyata.
Menjadikan Kepedulian sebagai Jalan Taubat Sosial
Bencana alam di Sumatra seharusnya menjadi momentum taubat sosial. Taubat tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif. Ketika kerusakan terjadi secara masif, maka perbaikan pun harus dilakukan bersama-sama.
Salah satu bentuk taubat sosial adalah dengan membantu para korban bencana. Mengulurkan tangan kepada mereka yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Dalam setiap bantuan yang diberikan, tersimpan harapan bahwa kita sedang memperbaiki hubungan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Allah SWT.
Saat alam menangis, Islam mengajarkan kita untuk tidak berpaling. Tangisan itu adalah panggilan untuk berubah, memperbaiki diri, dan menunaikan amanah sebagai penjaga bumi. Di tengah bencana yang melanda Sumatra, kita memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.
Kepedulian kita hari ini dapat menjadi harapan bagi mereka yang terdampak. Setiap donasi yang disalurkan adalah wujud nyata tanggung jawab ekologis dan kemanusiaan umat Islam.
Mari bersama memulihkan harapan dan kehidupan para penyintas bencana di Sumatra. Donasikan kepedulian Anda melalui link: YUK DONASI UNTUK SUMATRA