SOLO-SMK Gratis Solopeduli Surakarta mengadakan upacara bendera untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional pada Jumat (10/11) pukul 07.00, bertempat di halaman sekolah. Dalam upacara ini, ada sedikit yang berbeda. Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang atau yang masih hidup hingga saat ini yang biasa dikenal dengan pahlawan veteran, sekolah bersama Yayasan Solo Peduli Ummat (YSPU) mengundang beberapa para pejuang kemerdekaan untuk hadir ke sekolah. Tujuannya adalah untuk diberi penghargaan dan bingkisan dalam program "Kado Cinta Veteran".
Ada lima bingkisan yang disiapkan, tetapi hanya dua yang bisa hadir ke sekolah. "Disebabkan usia mereka yang sudah cukup tua, jadi hanya beberapa yang bisa kami mohon hadir ke sekolah," jelas Sari Mar'ati HA, S.Pd.I., humas SMK Gratis Solopeduli. Salah satu keluarga pejuang kemerdekaan yang hadir adalah Ibu Sri Suminah. Beliau adalah istri Alm. Bapak Soedarmin, salah satu tokoh pejuang yang ikut mempertahankan kemerdekaan di Kota Solo. Alm. Bapak Soedarmin baru wafat sekitar 40 hari yang lalu. Diantar oleh putranya, Bapak Darminto, Ibu yang kerap dipanggil Ibu Soedarmin ini bersedia hadir walaupun dengan memakai tongkat penyangga untuk bejalan. Hadir dalam kegiatan ini untuk menyerahkan bingkisan secara langsung adalah Manajer Pendayagunaan Solopeduli, Wahyu Wahnuri, S.PdI.
Selain dihadirkan ke sekolah, penyerahan bingkisan dilakukan dengan cara langsung mendatangi rumah veteran yang bersangkutan. Beberapa veteran tidak bisa hadir karena memang kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Salah satunya adalah Bu Hasan. Solopeduli yang diwakili Achmad Eko, Staf Pendayagunaan Solopeduli, berkesempatan untuk bersilaturahim dan menyerahkan ‘bingkisan cinta' dari Solopeduli kepada keluarga Bu Hasan. Bu Hasan adalah istri seorang veteran Brimob masa-masa awal kemerdekaan. Suaminya sudah meninggal pada tahun 1991 silam. Saat ini, Bu Hasan tinggal bersama dua orang anaknya di daerah Gremet, Solo. Dahulu Pak Hasan adalah Brimob yang sudah terbiasa berpindah-pindah tempat untuk berjaga di garis batas NKRI demi kedaulatan bangsa. "Pak Hasan pernah ditugaskan di Timtim, Aceh, dan Sulawesi. Jadi saya sudah terbiasa jauh dengan suami dan mungkin hanya bertemu satu sampai dua kali dalam setahun," ungkap Bu Hasan. [Ach/Sar/Kjay]