YOGYAKARTA-Selasa (14/11/2017) menjadi hari yang penuh perjuangan bagi Luqman Nur Hidayat, penderita Atresia Bilier, dan ibunya, Bu Sri Daryani. Pasalnya, pada hari tersebut Luqman harus menjalani operasi cangkok hati di Rumah Sakit Dr. Sarjito Yogyakarta. Yang menjadi pendonor hati tidak lain adalah ibu kandung Luqman sendiri yang sangat menyayanginya. Tidak hanya pada hari itu saja Luqman dan ibunya harus berjuang, selama tiga bulan pascaoperasi, Luqman dan Ibunya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, ayah Luqman, Pak Tumiyo, bisa sedikit bernafas lega. Namun, ternyata tidak lama berselang, tepatnya tiga hari pascaoperasi cangkok hati, Lukman mengalami pendarahan. Kecurigaan dari pihak rumah sakit penyebabnya adalah adanya penyumbatan pada usus besarnya. Kemudian pada hari itu juga, tepat pukul 19.00, Luqman naik ke meja operasi untuk yang kedua kalinya. Alhamdulillah, operasi yang kedua ini berjalan lancar. Luqman dan Ibuya lanjut menjalani perawatan intensif di ruang ICU.
Seminggu berselang pascaoperasi, Bu Sri Daryani sudah bisa keluar dari Ruang ICU. Selang beberapa hari, Bu Sri sudah diperbolehkan menjalani perawatan jalan minimal selama tiga bulan pascaoperasi cangkok hati dan belum diperbolehkan terlalu kelelahan ataupun mengerjakan sesuatu yang terlalu berat. Sementara itu, setelah sekian lama Luqman menetap di ruang ICU, pada Rabu malam (6/12/2017) keluarga Luqman mendapat kabar gembira dari dokter yang menyampaikan bahwa Luqman sudah bisa berpindah ke kamar bangsal. Pada malam hari itu juga, Luqman sudah menempati ruang atau kamar bangsal, tetapi masih di bangsal isolasi. Walau di bangsal isolasi, keluarga Luqman sudah merasa senang karena tidak lagi menjalani perawatan di ruang ICU. Hal tersebut menandakan bahwa perkembangan proses penyembuhan Luqman berjalan cukup lancar.
Keluarga Luqman masih sedih sebab semenjak seminggu sebelum operasi cangok hati sampai dengan saat ini, Pak Tumiyo yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tidak lagi bekerja karena harus merawat putra yang disayanginya dan juga istrinya yang mendonorkan hati kepada putranya. Sedangkan di rumah, di Kabupaten Gunung Kidul, Pak Tumiyo juga masih mempunyai tiga anak yang menjadi tanggungan keluarga, yaitu anak kedua dan ketiganya yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga dan kelas satu, dan anak pertamanya yang berkebutuhan khusus. Keluarga Pak Tumiyo sangat membutuhkan uluran bantuan dari kita semua.[Wah/Kjay]