Komitmen SOLOPEDULI dalam mendukung syiar Islam dan pembelajaran Al-Qur'an terus diwujudkan melalui program Wakaf Al-Qur'an. Pada Selasa (28/7/2026), SOLOPEDULI menyalurkan mushaf Al-Qur'an kepada TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) Masjid Laweyan Belukan, Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta.
Penyaluran dilakukan secara langsung oleh Narulita selaku amil SOLOPEDULI dan diterima oleh Jamik Supeni, Koordinator TPQ Masjid Laweyan, di lingkungan masjid yang menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Solo tersebut.
Masjid Laweyan dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kota Surakarta. Berdiri sejak tahun 1546, masjid ini telah berusia hampir lima abad dan menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan Islam di kawasan Laweyan. Bangunan yang konon pada masa lampau merupakan sebuah pura ini hingga kini tetap terawat dengan baik dan terus menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat termasuk untuk kegiatan TPQ.
Melalui penyaluran ini, SOLOPEDULI berharap keberadaan mushaf Al-Qur'an baru dapat menunjang kegiatan belajar mengajar para santri dan santriwati TPQ Masjid Laweyan. Al-Qur'an tersebut akan digunakan untuk mendukung proses membaca, memahami, dan menghafalkan Al-Qur'an bagi para santri yang dibimbing oleh Jamik Supeni bersama Ibu Narti dan enam pengajar lainnya.
dok.humas: Para Santri Membaca Wakaf Al-Qur'an Solopeduli
Program Wakaf Al-Qur'an yang dijalankan SOLOPEDULI tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan sarana pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar mencetak generasi Qur'ani. Selain itu, program ini diharapkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi para donatur yang telah mengamanahkan wakaf dan sedekahnya melalui SOLOPEDULI.
Di balik eksistensinya hingga saat ini, TPQ Masjid Laweyan memiliki perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Jamik Supeni menceritakan bahwa cikal bakal TPQ bermula dari kegiatan Madrasah Ramadan yang dahulu hanya berlangsung selama bulan Ramadan.
"Awalnya kegiatan mengaji hanya dilaksanakan saat Madrasah Ramadan selama satu bulan penuh. Namun, karena banyak permintaan dari masyarakat agar anak-anak tetap bisa belajar mengaji setiap hari, kami bersama remaja masjid berinisiatif melanjutkannya menjadi TPQ. Kalau tidak salah sekitar tahun 1984, saat saya masih SMA. Waktu itu kegiatan belajar mengaji baru dilaksanakan tiga hari dalam sepekan," tutur Jamik Supeni.
Dalam perkembangannya, para pengajar terus berupaya menyusun sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan santri. Selain menggunakan metode Qiraati, TPQ Masjid Laweyan juga mengembangkan materi dan kurikulumnya secara mandiri.
"Kami menggunakan metode Qiraati sebagai dasar pembelajaran. Selain itu, kami juga mengambil beberapa materi dari metode Iqra dan menyusun kurikulum sendiri agar pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan anak-anak," jelasnya.
Perjalanan TPQ tidak selalu berjalan mulus. Jamik mengenang masa-masa ketika jumlah santri sempat menurun drastis hingga tersisa delapan anak saja. Namun, semangat untuk mempertahankan majelis ilmu tidak pernah surut.
"Ada masa ketika jumlah santri tinggal delapan anak. Saat itu saya bersama Bapak Humam Sutopo selaku pimpinan takmir masjid tetap berusaha menjalankan TPQ ini. Alhamdulillah, banyak santri yang dahulu belajar di sini kini menjadi guru-guru pengajar. Mereka mengikuti berbagai ujian hingga memperoleh sertifikat syahadah, dan dari situlah TPQ ini terus berkembang," ungkapnya.
Saat ini, TPQ Masjid Laweyan terus menjadi tempat belajar Al-Qur'an bagi anak-anak di sekitar Laweyan bahkan dari luar wilayah tersebut. Berbagai prestasi juga berhasil diraih para santri dalam beragam perlombaan keagamaan.
dok.humas: Santri TPQ Masjid Laweyan Berjalan Membawa Al-Quran Solopeduli
"Jika seluruh santri aktif hadir, jumlahnya bisa mencapai sekitar seratus anak. Berbagai piala yang ada di sini merupakan hasil prestasi anak-anak kami. Tantangan saat ini adalah banyaknya kegiatan sekolah sehingga anak-anak sering pulang lebih sore. Namun kami tetap berupaya mempertahankan kegiatan mengaji setiap sore. Alhamdulillah, kegiatan masjid pada malam hari juga terus berjalan, termasuk kegiatan untuk para orang tua," kata Jamik.
Menurutnya, keberlangsungan TPQ hingga saat ini tidak lepas dari dukungan masyarakat dan para pengajar yang terus istiqamah menjaga semangat dakwah melalui pendidikan Al-Qur'an.
"Alhamdulillah, kami hanya berharap dapat terus istiqamah menjaga majelis TPQ ini agar tetap bermanfaat bagi masyarakat. Santri yang belajar di sini tidak hanya berasal dari Laweyan, tetapi juga dari daerah lain, bahkan ada yang datang dari Kartasura. Salah satu keunggulan TPQ ini adalah kegiatan belajar yang dilaksanakan lima hari dalam sepekan serta adanya ujian kenaikan jilid yang membuat anak-anak semakin termotivasi untuk belajar," pungkasnya.
Melalui dukungan sarana pembelajaran yang diberikan, SOLOPEDULI berharap TPQ Masjid Laweyan dapat terus melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur'an serta menjaga tradisi keilmuan Islam yang telah tumbuh dan bertahan di masjid bersejarah tersebut selama puluhan tahun.(snk)