SOLOPEDULI menyalurkan bantuan 16.000 liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan di Kecamatan Wonosamudro, Kabupaten Boyolali, Kamis (27/8/2026). Bantuan tersebut disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Dusun Ngelo dan Dusun Bercak yang mengalami keterbatasan sumber air.
Sebanyak 160 warga menerima bantuan tersebut. Rinciannya, sebanyak 8.000 liter air bersih disalurkan kepada 80 warga di Dusun Ngelo dan 8.000 liter lainnya diberikan kepada 80 warga di Dusun Bercak.
Penyaluran dilakukan oleh tim program SOLOPEDULI sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat kondisi kekeringan. Keterbatasan sumber air membuat warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang penerima manfaat (no name) SOLOPEDULI di Dusun Bercak mengungkapkan, warga selama ini mengandalkan sumber air yang berada di kawasan hutan ketika sumur tidak dapat digunakan secara optimal. Bahkan, warga harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan air.
“Di sini sumur bor sebenarnya potensial, tetapi kedalamannya bisa mencapai 50 meter. Kalau tidak ada air seperti sekarang, kami mengambil air dari hutan. Ada seperti punden atau sendang di dalam hutan. Sebenarnya tidak cukup, tetapi ya dicukup-cukupkan. Untuk mandi, misalnya, hanya secukupnya,” ujarnya.
Menurutnya, kesulitan semakin terasa ketika warga harus mengambil air pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan keesokan harinya. Selain jaraknya cukup jauh, akses menuju sumber air juga masih berupa jalan tanah sehingga menyulitkan warga.
dok.humas: Potret Warga Dusun Bercak dan Dusun Ngelo, Wonosamudro, Boyolali Mengambil Air Bersih
“Yang susah itu ketika malam waktunya istirahat, kami harus mengambil air ke hutan untuk stok besok. Jaraknya sekitar tiga kilometer. Yang lebih merepotkan, akses jalannya masih tanah,” lanjutnya.
Kondisi serupa juga dirasakan warga Dusun Ngelo. Salah seorang penerima manfaat (no name) mengatakan bahwa warga harus datang lebih awal ke sumber air karena ketersediaannya terbatas. Jika terlambat, warga berpotensi tidak mendapatkan air.
“Di sini ada sungai dan sendang. Kalau datang sekitar pukul 06.00–07.00, terkadang sudah tidak kebagian air. Sumbernya berada di tengah sawah dan airnya mengalir. Kalau mengebor, biayanya sekitar Rp17 juta hingga Rp20 juta. Bagi masyarakat kecil seperti kami, tentu sangat berat,” ungkapnya.
Ia pun menyampaikan rasa syukur atas bantuan air bersih yang diberikan SOLOPEDULI.
“Bantuan air bersih ini kami terima dengan penuh syukur. Semoga menjadi amal jariyah bagi para donatur sekalian,” ujarnya.
Bantuan air bersih dari SOLOPEDULI diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan masyarakat selama kondisi kekeringan berlangsung. Air yang disalurkan dapat dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus mengurangi beban mereka dalam mencari sumber air yang lokasinya cukup jauh.
Melalui penyaluran tersebut, SOLOPEDULI terus berupaya hadir membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat kekeringan. Bantuan air bersih menjadi salah satu bentuk respons kemanusiaan SOLOPEDULI untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar di tengah keterbatasan sumber air.
SOLOPEDULI juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memberikan perhatian kepada wilayah yang mengalami krisis air bersih. Dukungan para donatur diharapkan dapat memperluas jangkauan penyaluran bantuan sehingga semakin banyak masyarakat yang terbantu selama musim kekeringan. Mari bersama SOLOPEDULI dukung masyarakat kekeringan dengan berdonasi air bersih.(snk)